17 December 2006
Tidak perlu alasan untuk kembali
Suara adzan Maghrib baru saja berlalu. Suasana masih hiruk pikuk di terminal angkot itu. Dela Sumanti masih duduk termangu di sebuah wartel. Ia ingin menelepon ibunya di rumah, tetapi ragu.
Teringat kembali ketika tadi pagi ia bertengkar dengan ibunya. Masalahnya sepele, ia ingin pergi mendaki gunung untuk merayakan tahun baru. Klubnya di perguruan tinggi ingin menikmati matahari terbit 1 Jan. 2006 di puncak gunung. Sebagai anggota baru, ia ingin benar ikut. Hanya saja ibunya tidak mengijinkannya. Ia memang belum berpengalaman dalam mendaki gunung. Ibunya sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Ia adalah satu-satunya keluarga di rumah bagi ibunya, karena ia anak tunggal. Ayahnya telah meninggal setahun yang lalu. Ibunya ingin ia merayakan tahun baru di rumah saja, berdua.
Dela berkeras dan pertengkaranpun tak terhindarkan. Demikian kesal Dela akan larangan ibunya, sampai akhirnya ia pergi meninggalkan rumah. Dia beranggapan ibunya adalah penghalang keinginannya. Terngiang kata-kata keras ibunya saat ia meninggalkan rumah :"Sudah sana pergi, dan tak usah kembali !" "Ya, sudah, memang aku tak akan kembali lagi !", pikirnya.
Celakanya, ia lupa membawa dompetnya sehingga tak sepeserpun uang ada pada dirinya. Dela tidak perduli. Kepada sopir angkot ia katakan bahwa ia numpang ke kota dan tidak punya uang. Sopir baik hati itu mengijinkannya ikut bahkan menasehatinya agar hati-hati. Tanpa uang sepeserpun di kota akan mengundang masalah. Dela berkeras terus berjalan berkeliling kota.
Lewat tengah hari menjelang sore, perutnya mengganggu alias minta diisi. Apa daya, tanpa uang ia hanya bisa melihat saja makanan dan orang yang sedang makan. Tanpa sadar, ia berhenti di depan sebuah warung mie ayam dan memperhatikan si penjual melayani pembeli. Ketika warung mulai sepi, si penjual sempat melihat Dela yang dari tadi berdiri di depan warung. Disapanya Dela dengan ramah "Mau membeli mie ayam neng ?" Dela menyahut jujur "Maunya bang, tetapi saya tidak punya uang !" Di luar dugaan si penjual tersenyum ramah, menyilakan Dela masuk warung :"Silakan neng, saya akan menyiapkan semangkok mie ayam, gratis untuk neng. Hari ini saya banyak memperoleh rejeki kok !"
Seperti terhipnotis, Dela masuk ke warung. Beberapa saat kemudian semangkok mie ayam siap terhidang di hadapannya. Dela yang sudah amat lapar segera menyantapnya. Selesai makan, Dela memandang si penjual mie ayam, lalu menangis. Si penjual mie ayam heran, lalu bertanya :"Kenapa neng ? Tak usahlah dipikir, saya memang ikhlas kok !"
Sambil terisak, Dela bercerita sebab-musabab dia terdampar di situ. Di akhir cerita dia berkata :"Saya sangat terharu bang. Abang baru sekali melihat dan bertemu saya, kok demikian baik, mau membuatkan mie untuk saya, padahal mie itu kan dijual. Beda benar dengan ibu saya, yang seharusnya mengurus saya kok malah membuat saya pergi dari rumah !"
Si penjual mie ayam diam saja mendengarkan dan membiarkan Dela menangis sampai akhirnya, karena merasa malu, berhenti dengan sendirinya. Sesaat kemudian dia
bertanya :"Neng, boleh abang menyampaikan sesuatu ?" Dela mengangguk pelan. Si penjual mie ayam melanjutkan :"Saya justru ingin mengatakan yang sebaliknya. Saya yang baru neng kenal, dan sekedar memberikan semangkok mie ayam, sudah neng anggap sebagai orang yang sangat baik. Terus bagaimana neng memandang ibu neng, yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan neng dengan susah payah ? Tiap hari menyiapkan makanan dan pakaian. Bersusah payah merawat kalau neng sakit. Dan itu sudah berlangsung seumur hidup neng bukan ? Apakah hanya karena beda pendapat dalam hal naik gunung saja, semua kebaikan ibu neng tersebut terhapus dari pikiran neng ? Coba deh, neng pikir sekali lagi !"
Dela tersentak. Pikirnya :"Benar juga kata si penjual mie ayam. Betapa durhakanya aku sebagai anak, sampai tega meninggalkan ibu sendiri di rumah !" Sekali lagi Dela menangis, kali ini sampai tersedu-sedu.
Si penjual mie ayam membiarkannya. Beberapa saat kemudian, tangis Dela mereda, dan si penjual mie ayam berkata :"Neng, pulanglah. Ibumu pasti sangat susah memikirkan dirimu. Sudahlah, lupakan niat naik gunung. Pulang dan minta maaf pada ibumu. Abang yakin ibumu akan memaafkanmu !"
"Tapi, apa alasan yang saya harus saya katakan pada ibu untuk pulang bang ?" tanya Dela. Si abang hanya menjawab :"Tidak perlu alasan bagi seorang anak untuk kembali pada ibunya ! Ini saya beri uang untuk ongkos pulang !"
Dela tersadar, dan dia segera menelepon ibunya ………..
Posted in Artikel Lama, Motivasi
