Masuwiek's Blog

“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win. ” (Mahatma Gandhi)


Tidak perlu alasan untuk kembali

Suara adzan Maghrib baru saja berlalu. Suasana masih hiruk pikuk di terminal angkot itu. Dela Sumanti masih duduk termangu di sebuah wartel. Ia ingin menelepon ibunya di rumah, tetapi ragu.

Teringat kembali ketika tadi pagi ia bertengkar dengan ibunya. Masalahnya sepele, ia ingin pergi mendaki gunung untuk merayakan tahun baru. Klubnya di perguruan tinggi ingin menikmati matahari terbit 1 Jan. 2006 di puncak gunung. Sebagai anggota baru, ia ingin benar ikut. Hanya saja ibunya tidak  mengijinkannya. Ia memang belum berpengalaman dalam mendaki gunung. Ibunya sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Ia adalah satu-satunya keluarga di rumah bagi ibunya, karena ia anak tunggal. Ayahnya telah meninggal setahun yang lalu. Ibunya ingin ia merayakan tahun baru di rumah saja, berdua.

Dela berkeras dan pertengkaranpun tak terhindarkan. Demikian kesal Dela akan larangan ibunya, sampai akhirnya ia pergi meninggalkan rumah. Dia beranggapan ibunya adalah penghalang keinginannya. Terngiang kata-kata keras ibunya saat ia meninggalkan rumah :"Sudah sana pergi, dan tak usah kembali !" "Ya, sudah, memang aku tak akan kembali lagi !", pikirnya.

Celakanya, ia lupa membawa dompetnya sehingga tak sepeserpun uang ada pada dirinya. Dela tidak perduli. Kepada sopir angkot ia katakan bahwa ia numpang ke kota dan tidak punya uang. Sopir baik hati itu mengijinkannya ikut bahkan menasehatinya agar hati-hati. Tanpa uang sepeserpun di kota akan mengundang  masalah. Dela berkeras terus berjalan berkeliling kota.

Lewat tengah hari menjelang sore, perutnya mengganggu alias minta diisi. Apa daya, tanpa uang ia hanya bisa melihat saja makanan dan orang yang sedang  makan. Tanpa sadar, ia berhenti di depan sebuah warung mie ayam dan memperhatikan si penjual melayani pembeli. Ketika warung mulai sepi, si penjual sempat melihat Dela yang dari tadi berdiri di depan warung. Disapanya Dela dengan ramah "Mau membeli mie ayam neng ?" Dela menyahut jujur "Maunya bang, tetapi saya tidak punya uang !" Di luar dugaan si  penjual tersenyum ramah, menyilakan Dela masuk warung :"Silakan neng, saya akan menyiapkan semangkok mie ayam, gratis untuk neng. Hari ini saya banyak memperoleh rejeki kok !"

Seperti terhipnotis, Dela masuk ke warung. Beberapa saat kemudian semangkok mie ayam siap terhidang di hadapannya. Dela yang sudah amat lapar segera  menyantapnya. Selesai makan, Dela memandang si penjual mie ayam, lalu  menangis. Si penjual mie ayam heran, lalu bertanya :"Kenapa neng ? Tak  usahlah dipikir, saya memang ikhlas kok !"

Sambil terisak, Dela bercerita sebab-musabab dia terdampar di situ. Di akhir cerita dia berkata :"Saya sangat terharu bang. Abang baru sekali melihat dan  bertemu saya, kok demikian baik, mau membuatkan mie untuk saya, padahal mie  itu kan dijual. Beda benar dengan ibu saya, yang seharusnya mengurus saya  kok malah membuat saya pergi dari rumah !"

Si penjual mie ayam diam saja mendengarkan dan membiarkan Dela menangis sampai akhirnya, karena merasa malu, berhenti dengan sendirinya. Sesaat kemudian dia
bertanya :"Neng, boleh abang menyampaikan sesuatu ?" Dela  mengangguk pelan. Si penjual mie ayam melanjutkan :"Saya justru ingin  mengatakan yang sebaliknya. Saya yang baru neng kenal, dan sekedar memberikan semangkok mie ayam, sudah neng anggap sebagai orang yang sangat baik. Terus bagaimana neng memandang ibu neng, yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan neng dengan susah payah ? Tiap hari menyiapkan makanan dan pakaian. Bersusah payah merawat kalau neng sakit. Dan itu sudah berlangsung seumur hidup neng bukan ? Apakah hanya karena beda pendapat dalam hal naik gunung saja, semua kebaikan ibu neng tersebut terhapus dari  pikiran neng ? Coba deh, neng pikir sekali lagi !"

Dela tersentak. Pikirnya :"Benar juga kata si penjual mie ayam. Betapa durhakanya aku sebagai anak, sampai tega meninggalkan ibu sendiri di rumah !" Sekali lagi Dela menangis, kali ini sampai tersedu-sedu.

Si penjual mie ayam membiarkannya. Beberapa saat kemudian, tangis Dela mereda, dan si penjual mie ayam berkata :"Neng, pulanglah. Ibumu pasti sangat susah memikirkan dirimu. Sudahlah, lupakan niat naik gunung. Pulang dan minta maaf pada ibumu. Abang yakin ibumu akan memaafkanmu !"

"Tapi, apa alasan yang saya harus saya katakan pada ibu untuk pulang bang ?" tanya Dela. Si abang hanya menjawab :"Tidak perlu alasan bagi seorang anak untuk kembali pada ibunya ! Ini saya beri uang untuk ongkos pulang !"

Dela tersadar, dan dia segera menelepon ibunya ………..




Comments »


No comments yet.


RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

  

Tentang Penghuni

MASUWIEK. Dwi Setyawan, Uwiek. Menginjakan kaki di Bekasi sebagai seorang mahasiswa. Utak-atik Blog hanya pengisi waktu selagi sempat dan punya hasrat.


Sudut Jogja

Yogyakarta / Jogja

Katalog Wisata Jogja / Yogyakarta

Cuap-cuap


Jumlah Pengunjung


Ensiklonesia


Bertukar Link

Bila Anda ingin bertukar link dengan Masuwiek.Blogsome.com, boleh menggunakan kode HTML di bawah ini.


Tampilan:
Masuwiek.Blogsome.com

ATAU


Tampilan:
Masuwiek