1 October 2009
Akibat 25 Kekeliruan
Barangkali Michael Shermer, Ph.D., tepat dipanggil Mr. Sceptic. Kolumnis dan redaktur tamu di majalah Scientific American itu, selain pendiri dan penerbit majalah Sceptic ia juga pembawa acara dalam Skeptics Lecture Series di Universita Caltech, California, AS.
Shermer telah menuangkan gagasan skeptisnya tentang beberapa hal dalam beberapa buku, tentang hal-hal aneh yang banyak dipercayai oleh masyarakat dunia. Dalam Why People Believe Weird Things, ia menuliskan pandangan kritis terhadap para pemercaya hal-hal aneh.
Pertama-tama, ia yakin, mereka yang percaya pada monster dan misteri, lantaran ada kekeliruan dalam proses berpikir yang mereka jalani. Ke-25 macam kesalahan itu ada yang masuk dalam masalah proses berpikir ilmiah, ada lagi yang tergolong masalah dalam proses berpikir ilmiah semu, bisa pula masuk kategori masalah logika, dan terakhir kesalahan karena masalah kejiwaan.
Masalah dalam proses berpikir secara ilmiah
1. Teori mempengaruhi observasi.
Bagaimana lapang penglihatan dipengaruhi oleh teori yang sudah mapan amat jelas dalam kasus Columbus. Saat ia menemukan benua Amerika, yang disebutnya dunia baru, ia sudah terlanjut berteori bahwa yang ia temukan itu Asia, sehingga Amerika dilihat sebagai Asia. Semua tumbuhan yang dilihatnya disebut dan dikaitkan sebagai tumbuhan dari Asia.
2. Si pengamat mengubah yang diamati.
Objek yang diobservasi sering berubah bila tahu sedang diamati. Tindakan mengamati dan mempelajari suatu peristiwa bisa mengubah peristiwa itu sendiri.
3. Alat menentukan hasil.
Ini amat gamblang terjadi di bidang astronomi. Besarnya teleskop telah mempengaruhi kesimpulan kita tentang luasnya alam raya.
Sepertinya sudah ilmiah, padahal ilmiah semu
4. Anekdot bukan sains.
Tanpa bukti kuat dari sumber-sumber lain, atau bukti-bukti fisik yang diperlukan adalah eksperimen, bukan anekdot.
5. Bahasa ilmiah tidak membuat gagasan juga menjadi ilmiah.
Hati-hati dengan istilah yang terdengar ilmiah. Apakah maksudnya jelas dan mengandung definisi yang bisa dioperasionalkan?
6. Pernyataan yang berani tidak serta merta membuat klaimnya benar.
Contohnya, ada seorang guru dibidang energi seksual yang menyebut teorinya, teori Ogonomi "revolusi dalam biologi dan psikologi yang sejajar dengan revolusi Copernicus"
7. Dianggap aneh tidak berarti benar.
Copernicus dulu ditertawakan, begitu juga Wright Bersaudara si penemu pesawat. Namun, teori relativitas Einstein yang diabaikan sampai tahun 1919, saat eksperimen membuktikan kebenarannya, langsung diterima.
8. Beratnya beban bukti.
Betapapun benarnya Anda, kalau pendapat itu nyeleneh, aneh, maka beban ada dipundak Anda untuk meyakinkan komunitas bahwa bukti yang Anda miliki itu sahih. Anda perlu melakukan lobi sehingga para ahli percaya dan yakin bahwa bukti-bukti Anda itu dapat dibenarkan.
9. Rumor tidak sama dengan realitas.
Ada banyak rumor yang demikian kuat beredar sehingga dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian orang.
10. Tak dapat menjelaskan belum tentu berarti benar-benar tak dapat diterangkan.
Seorang arkeolog amatir menyatakan, karena ia tidak dapat menjelaskan bagaimana piramid dibangun, maka pastilah yang membangun piramid itu makhluk luar angkasa. Ambil contoh, kemampuan berjalan diatas api bisa diterangkan seperti ini: kapasitas cahaya dan batu bara dalam menyimpan panas itu amat rendah. Selama kita tidak bersiri terus menerus diatasnya , kita tidak akan terbakar. Banyak trik tukang sulap yang sebenarnya berdasarkan prinsip yang relatif sederhana (meski banyak yang amat sulit dilaksanakan).
11. Mencari-cari alasan bila gagal.
Sebenarnya, gagal bereksperimen harus diakui secara jujur, demikian pula kekeliruannya. Bukannya mencari alasan atau malah mengabaikannya begitu saja. Belajar dari kegagalan justru sering membawa kita lebih dekat kepada kebenaran.
12. Berpikir belakangan.
Sebenarnya ini mirip takhayul. Misalnya, pemain sepakbola yang merasa mantap kalau tidak bercukur ketika bertanding, karena dari pengalaman yang lalu, kalautidak bercukur, ia bisa menyarangkan bola ke gawang lawan.
13. Kebetulan.
Dalam dunia paranormal, hal-hal yang terjadi kebetulan sering dianggap memiliki signifikan tinggi. Orang umumnya kurang memahami hukum probabilitas. Misalnya, dalam sebuah ruangan yang dihadiri 30 orang, probabilitas adanya dua orang dalam ruangan itu yang memiliki hari ultah yang sama adalah 0,71.
14. Ingat yang penting-penting saja.
Kecenderungan kita untuk melupakan ramalan yang tak tepat dan ingat yang tepat menjadi sumber nafkah banyak peramal. Kalau ada kejadian yang dianggap janggal, kita harus meletakkannya dalam konteks yang lebih luas. Misalnya, kalau orang mengatakan sebuah rumah ada hantunya, kita perlua mencari data awal sebagai pembanding, misalnya bunyi atau peristiwa yang terjadi di rumah itu, sebelum memutuskan memang ada yang sungguh aneh di situ. Bisa jadi bunyi ketukan yang terdengar itu hanya karena sistem pipa yang buruk, dan suara garuk-garuk menyeramkan itu bukan suara hantu, tetapi tikus.
Masalah logika
15. Pilihan kata dan analogi yang keliru.
Ada kata-kata tertentu yang membangkitkan emosi. Yang positif: kejujuran, integritas; atau yang negatif: kanker, komunis. Metafora dan analogi pun bisa sengaja diciptakan untuk membangkitkan emosi. Perhatikan kata-kata ini: "sampah masyarakat", "memperkosa lingkungan".
16. Ad ignorantiam.
Kalau kita tak dapat membantah sebuah klaim, berarti klaim itu benar. Misalnya, kalau Anda tak dapat membuktikan bahwa Sinterklas itu tidak ada (atau ada), maka ia ada (atau tidak ada). Padahal, dalam sains kita baru percaya, bila bukti yang diajukan adalah bukti positif, bukan karena tidak adanya bukti lalu disimpulkan sebaliknya.
17. Ad hominem dan tu quoque.
Arti harfiahnya, "kepada orang itu dan kamu juga". Ini praktek membelokan perhatian dari gagasan ke pembawa gagasan. Seseorang menyatakan sesuatu, lalu orang lain menanggapinya begini, "Kamu mengatakan begitu karena kamu ateis, komunis, Nazi, dsb." dengan tujuan menyerang pernyataannya.
18. Generalisasi tergesa-gesa.
Umum disebut prasangka. Kesalahan ini paling sering dilakukan orang. Beberapa gelintir produk mobil "A" jelek, maka semua mobil merek itu pasti jelek. Dalam sains, diperlukan sampel sebanyak-banyaknya sebelum mengambil kesimpulan.
19. Terlalu tergantung pada otoritas.
Karena si A itu profesor, maka yang ia katakan pasti benar. Karena si B pengangguran luntang lantung, maka jangan percaya pada ucapannya. Bahayanya, kita menerima sebuah gagasan yang keliru hanya karena yang mengatakan adalah orang yang dihormati, atau sebaliknya, kita membuang sebuah ide bagus semata-mata karena tidak memandang sebelah mata pada si pelontar ide.
20. Kalau tidak ini, pasti itu.
Disebut juga dilema yang keliru. Tidak cukup hanya menunjuk pada kelemahan teori tertentu, lalu menyimpulkan bahwa "yang benar pasti teori yang satunya".
21. Pemikiran yang berputar.
Kesimpulan yang ditarik sebenarnya pengulangan dari premis yang diucapkan sebelumnya. Contoh, daya tarik bumi itu apa? Kecenderungan benda saling tarik menarik. Mengapa benda saling tarik menarik? Karena daya tarik bumi.
22. Reductio ad absurdum.
Menolak suatu pernyataan dengan menarik kesimpulan logis sedemikian rupa sampai memberi hasil absurd. Misalnya, makan es krim bisa bikin gemuk. Kalau kegemukan, kita bisa sakit jantung dan mati. Maka makan es krim bisa menyebabkan kematian.
Masalah kejiwaan
23. Ingin cari gampang.
Umumnya kita lebih suka penjelasan yang sederhana dan membuat kita merasa aman dan nyaman. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu sesimpel itu. Terkadang kita dituntut secara seriusmelakukan tingkat-tingkat pemikiran yang kritis dan proses pemecahan masalah. Sementara, kepiawaian dalam berpikir kritis dan ilmiah merupakan keterampilan yang memerlukan latihan, pengalaman, dan usaha.
24. Kemampuan problem solving yang tidak memadai.
Semua pemikiran yang kritis dan ilmiah pada dasarnya adalah kegiatan pemecahan masalah.
25. Imunitas ideologi.
Dalam kehidupan sehari-hari, seperti juga dalam sains, kita semua menentang perubahan paradigma yang fundamental. Semakin berpendidikan seseorang, semakinmapan ia dalam paradigma yang dipercayainya, dan semakin sulit membuka pikiran terhadap paradigma baru. Imunitas ideologi ini bisa diatasi, tetapi butuh waktu.
