Masuwiek's Blog

“First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win. ” (Mahatma Gandhi)


Arwah-Arwah Bayi

Perempuan itu lebih mencintai malam ketimbang siang. Malam memberinya keheningan, tempat ia menyusun rencana pertemuan dengan arwah-arwah bayinya. Demi arwah-arwah bayinya, ia ingin menjadi laba-laba yang setia membangun sarang dengan sulur-sulur lendirnya. Laba-laba itu tak pernah peduli pada angin yang mendadak melabrak dan memorakporandakan sarangnya. Laba-laba itu akan menyusunnya kembali: seinci demi seinci sulur-sulur lendirnya dibentangkan di antara pojok tembok dengan langit-langit rumah, atau diantara ranting-ranting yang menuding ke langit.

Hidup ini, pikir perempuan itu, memang sarat rencana karena manusia telah dijebak impian. Dijebak? Ah, juga tidak, bantah perempuan itu. Lewat impian, perempuan itu merasa leluasa mengulur-ulur harapan. Dan, ia sangat percaya pada harapan, yang membuatnya mampu bertahan hidup dengan semangat cinta. Ketika cinta itu menggetarkan hatinya, yang terbayang adalah bayi-bayi kecil, puluhan jumlahnya, yang saling berebut puting susunya yang penuh dan padat. Air susunya akan menderas, sederas cintanya pada bayi-bayi mungil yg berjejal-jejal dalam benaknya. Bayi-bayi mungil itu memang tidak pernah dilahirkannya, namun ia merasa mengasuh mereka.

Perempuan itu tidak pernah merasa lelah menyunggi impian, sambil menguntai manik-manik kekecewaan yang terkalung dan terjerat lehernya. Tetapi, anehnya, pikir perempuan itu, dirinya tidak serta merta binasa karena didera rasa kecewa. Kekecewaan dan rontoknya rencana telah diubahnya menjadi untaian kenangan dan pelajaran yang mampu memberi darah baginya.

Perempuan itu tidak tahu pasti berapa kali kekecewaan yang menjelma menjadi belati itu menikam-nikam lambungnya, menikam-nikam ulu hatinya. Ya, yang ia rasakan hanyalah rasa nyeri yang mengebor sukmanya. Jika rasa nyeri itu tiba, ia hanya berharap kepada malam untuk memberikan keheningan. Di dalam kolam keheningan itu, ia membasuh luka-luka. Ia tak pernah paham, kenapa malam selalu memberinya aliran tenaga, yang kadang terasa gaib dan membikin seluruh luka jiwanya raib. Sejak saat itu, ia semakin percaya kepada kekuatan malam. Hanya kala malam tiba, ia akan mejumpai bayi-bayi yang tak pernah dilahirkannya.

Dalam doanya yang panjang, kadang-kadang, ia meminta Tuhan untuk mengubah seluruh isi hari dan seluruh detak waktu menjadi malam. Malam dan malam. Ya, malam yang sangat menggairahkan. Namun, ternyata Tuhan kelewat demokratis. Ia membagi hari menjadi siang dan malam. Perempuan itu pun menyerah, meskipun ia menggerutu kenapa harus ada siang hari yang selalu dikutuknya. Siang, pikir perempuan itu, hanya memberi hiruk-pikuk kerja yang didikte detak jam, target, sedikit upah, dan selebihnya rasa ngilu. Perempuan itu tidak ingin menjadi budak waktu, yang berenang dalam kubangan keringatnya sendiri sambil mengejar benda apa saja yang terapung disana.

Perempuan itu diam-diam menyesal, kenapa kesadaran itu baru muncul sekarang. Bertahun-tahun ia tak berdaya, tunduk digiring ke kamp kerja paksa, dengan rangsangan upah ala kadarnya. Bertahun-tahun ia harus memelihara kekuatannya, dan mengubah saraf-sarafnya menjadi baja untuk melayani hasrat laki-laki yang bergairah mengisap seluruh isi tubuhnya demi beberapa teguk kenikmatan sementara. Entah sudah berapa puluh liter air mani laki-laki tumpah di rahimnya. Entah sudah berapa kali ia harus menggerus bakal janin agar tidak menjadi beban hidupnya. Barangkali, jika bayi-bayi itu bisa dilahirkannya, ia akan memiliki puluhan anak yang memenuhi rumah dan halaman. Tetapi, majikan yang menjebaknya menjadi perempuan penghibur, yang kini diistilahkan dengan gagah menjadi pekerja keras seks komersial, melarang dia untuk hamil.

Padahal, ia sangat ingin punya anak. Ia hanya menangis setiap pengguguran bayi itu dilakukan. Ia membayangkan janin-janin itu meronta dalam rahinya, sebelum lebur dihajar cairan kimia. Ia juga tak bisa membayangkan kemarahan janin-janin itu kepadanya. Mereka akan menganggap dirinya sebagai perempuan kejam yang setiap kata dan tindakannya menjadi pisau dapur yang menikam-nikam mereka. Perempuan itu juga tidak sanggup membayangkan jika janin-janin itu mengutuknya sebagai raksasa yang meramu nyawa bayi-bayi dan mereguknya demi kenikmatan. Ia ingin menjelaskan, dan berharap janin-janin itu mengerti, bahwa dirinya ingin melahirkan mereka untuk memasuki hiruk pikuk dunia dan merengkuhnya dengan cintanya. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun, kesempatan itu tak kunjung tiba. Setiap waktu, ia disergap semacam perasaan bersalah, perasaan berdosa pada janin-janin yang amat dicintainya itu.

Setiap malam, ia khusuk melakukan ziarah rahasia bagi arwah-arwah bayinya yang dirampas hak  hidupnya. Ia begitu gembira bertemu dengan mereka. Ia, dengan kasih seorang ibu, menggendong mereka satu persatu, menyuapi mereka, mengajak mereka bermain, memandikan mereka dan menidurkan mereka.

Perempuan itu, dengan sisa-sisa ingatan di masa kanak-kanaknya, juga mendongengi arwah-arwah bayinya. Ia sangat gembira memandang mata mereka yang berbinar-binar. Lusinan mata arwah-arwah bayi itu menjelma menjadi kristal-kristal cahaya yang membuat dadanya mekar. Di dadanya yang penuh itu, air susunya tak pernah habis dihisap berpuluh-puluh mulut mungil arwah bayi-bayinya. Ia merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya yang sintal. Ia merasa bahagia ketika dua putingnya itu dilumat arwah-arwah bayinya. Nyanyian pun akan selalu meluncur dari mulutnya seiring derasnya air susunya.

Pada kedua pipi perempuan bermata sayu itu mengalir dua anak sungai setiap ia ditinggalkan arwah-arwah bayinya. Serat-serta kasih sayang yang teranyam itu dirasakan mendadak putus. Ia memang sangat mencintai bakal anak-anaknya, yang dihardik agar tidak melihat dunia. Ia tidak peduli, meskipun barangkali janin bayi-bayi itu berasal dari bibit laki-laki yang tidak jelas juntrungannya. Barangkali diantara mereka ada yang berasal dari bibit seorang jahanam atau bedebah busuk. Namun, pikirnya, janin itu tetap janin. Bayi itu tetap bayi, dengan segala kesuciannya. Tak seorang pun berhak mengutuk bayi, meskipun ia lahir dari lorong kegelapan.

Ia sesungguhnya selalu berharap agar dunia yang kejam ini sedikit iba, dengan memberinya kesempatan untuk menguji janin-janin itu menjalani hidup. Tak soal, jadi apa mereka kelak. Apakah mereka itu akan menjadi sejenis bunglon, kadal, harimau, singa, ular piton, atau menjadi malaikat-malaikat kecil, yang dengan lingkaran aura cemerlang turun dari surga mewartakan berita langit. Hmm…

Begitulah, setiap malam perempuan berwajah tirus dan berambut lurus itu selalu menanti kehadiran arwah-arwah bayinya. Ia selalu menunggu mereka di beranda, diantara rerimbunan perdu dan bunga-bunga. Ia membiarkan rambutnyayang tergerai panjang disisir angin pegunungan. Ia berharap arwah-arwah bayi itu turun dari langit, muncul diantara bintang gemintang, yang terasa hanya beberapa depa dari kepalanya. Kadang-kadang tangannya berusaha meraih bintang-bintang itu. Ia berharap bisa menemukan bayi-bayinya yang mungkin bersembunyi disitu.

Ia juga sering bernyanyi, dengan suara sedikit parau, agar arwah-arwah bayinya keluar dari persembuanyiannya. Ia ingin mendekap mereka. Memeluk mereka. Mencium pipi-pipi mereka. Merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia berharap malam mau mengabulkan harapannya untuk segera membuka tabir rahasia, dimana anak-anaknya itu berada.

Bermimpi tentang bayi-bayi menjadi satu-satunya kemewahan bagi perempuan itu, yang tinggal di sebuah vila mungil diatas sebuah bukit. Vila itu pemberian seorang laki-laki kaya, yang jatuh cinta kepadanya. Laki-laki itulah yang membebaskan ia secara paksa dari seorang agen tenaga kerja wanita yang menjebaknya menjadi pekerja seks komersial. Perempuan itu menurut saja ketika laki-laki itu menjadikannya sebagai kekasihnya. Laki-laki itu setiap akhir pekan selalu mengunjungi dan mengajaknya menyelami samudra sampai ke dasarnya. Ia tidak keberatan, karena diam-diam ia memang suka.

Meskipun hubungan itu telah berjalan jauh dan mendalam, ia merasa tidak perlu tahu siapa laki-laki itu sesungguhnya. Ia hanya bisa menebak-nebak. Mungkin laki-laki itu seorang saudagar yang sukses. Mungkin ia seorang birokrat. Mungkin seorang hakim, serdadu, politikus, makelar, seniman, atau tukang khotbah agama. Mungkin saja ia itu koruptor yang licik dan licin dan tidak pernah tersentuh hukum. Atau, ia malah preman kelas kakap yang punya impian spektakuler merampok semesta seperti Waska, tokoh ciptaan Arifin C Noer dalam lakon Umang-Umang yang pernah ia baca ketika menjadi mahasiswa. Ia tidak peduli.

Yang paling membahagiakan ia hanyalah, di vila puncak bukit itu bisa memasuki malam dengan sempurna. Malam yang baginya selalu memberikan ketulusan yang menentramkan. Kadang-kadang ia berpikir, jangan-jangan ia lebih mencintai malam ketimbang laki-laki yang menghidupinya. Namun, ia tak peduli. Ia sekadar menjalani hidup ini. Ia ingin seperti air yang mengalir.

Mendadak perempuan itu dikejutkan suara tangis bayi yang ramai. Malam pun seperti tergeragap dan terjaga, seiring dengan desau angin pegunungan yang menyimpan jutaan jarum baja yang menikam-nikam tulangnya. Tangis bayi-bayi itu membikin senyumnya mengembang, membuat matanya berbibar. Ia kembali merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya. Perempuan itu bergegas bangkit mencari sumber suara. Ia menuju berbagai arah. Rerimbunan perdu dan bunga-bunga disibaknya. Tak ada siapa pun ditemuinya. Tangis bayi itu terasa makin menjauh dan menjauh. Ia kesal. Wajahnya sedikit terlipat. Ia menganggap mungkin suara itu tangis anak-anak jin. Namun, ketika ia hendak menuju beranda, tangis bayi-bayi itu kembali terdengar. Ia kembali bergegas mencari sumber suara. Mendadak tangis bayi-bayi itu berubah menjadi mesin mobil yang menjamah halaman vila.

Perempuan itu terkejut, dan hampir jatuh. Matanya silau diterpa sinar lampu mobil yang terang bagai siang.

Mobil itu masih hidup ketika dua orang laki-laki turun. Langkahnya tegap. Perempuan itu mundur beberapa langkah, ketika tahu yang datang bukan kekasihnya. Kecemasan mendadak menyergapnya. Dua laki-laki itu merangsek dan mendekap perempuan itu. Perempuan itu meronta.

"Menyerahlah kamu perempuan sundal!", teriak salah satu dari mereka.

Perempuan itu terus meronta. Namun, dua laki-laki itu terlalu kuat untuk dilawan. Mereka kemudian menyeret perempuan tak berdaya itu ke mobil. Mobil menderu, meninggalkan halaman vila yang remang diterobos tempias cahaya lampu dari beranda.

Perempuan itu terpuruk di pojok ruangan remang yang penuh asap. Ruangan yang setiap sudut-sudutnya sangat ia kenali. Ruangan yang secara fasih mengisahkan sepotong perjalanan hidupnya yang keras, terjal, penuh peluh dan keluh. Di ruangan yang tanpa kipas angin itu, beberapa laki-laki telah menunggunya.

"Layani mereka dengan baik!" ujar seorang laki-laki yang suaranya sangat dikenalnya. Suara berat yang jenuh dengan aroma alkohol. Suara yang setiap kalimatnya berbau ancaman, yang bertahun-tahun menindas jiwanya. Suara yang selalu menghadirkan bayangan mengerikan: kamar remang, laki-laki yang secara kasar membongkar pakaiannya, tubuh yang dirajam deru napas, dan rasa nyeri yang merajamnya sampai sukma.

Begitulah hari-hari dilaluinya dengan perasaan nyeri di rongga dada. Nyeri dikemaluannya. Hari-hari itu selalu bermakna siang: kerja, kerja dan kerja demi kepuasan para pembeli tubuhnya. Ia selalu gagal menjumpai malam yang tulus memberikan keheningan. Ia pun tak pernah lagi menziarahi arwah-arwah bayinya. Germo itu telah merampas impian mewah miliknya.

Perempuan itu tetap saja berjuang untuk membangun keheningan malam ditengah hirup pikuk birahi laki-laki yang rakus melumat tubuhnya. Namun keheningan malam gagal datang. Juga arwah bayi-bayinya sering datang menemuinya. Kini, ia dipaksa berenang-renang di genangan keringatnya. Ia dicengkeram rutinitas yang pelan-pelan membunuhnya.

Perempuan itu keras-keras meronta, menjerit dalam jiwanya. Ia ingin mengadukan segala hal-ihwal sungkawa kepada keheningan malam. Namun, kini keheningan malam itu raib entah kemana. Sekuat tenaga ia kembali bangkit dan membangun persembunyian di rongga batinnya, seperti laba-laba membangun sarang, seinci demi seinci membentang sulur dari lendirnya. Di sarang itu, ia berharap bisa bercengkerama dengan arwah-arwah bayinya.***




2 Comments »


  1. Khairuddin says; 11 October 2009 @ 10:44 pm

    Mohon izin tempat pertama dulu. BOleh khan mas?


  2. Khairuddin says; 11 October 2009 @ 10:57 pm

    Ceritanya bagus banged mas uwiek… tapi maaf ya aku kurang begitu ngerti ttg hal ini…



RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

  

Tentang Penghuni

MASUWIEK. Dwi Setyawan, Uwiek. Menginjakan kaki di Bekasi sebagai seorang mahasiswa. Utak-atik Blog hanya pengisi waktu selagi sempat dan punya hasrat.


Sudut Jogja

Yogyakarta / Jogja

Katalog Wisata Jogja / Yogyakarta

Cuap-cuap


Jumlah Pengunjung


Ensiklonesia


Bertukar Link

Bila Anda ingin bertukar link dengan Masuwiek.Blogsome.com, boleh menggunakan kode HTML di bawah ini.


Tampilan:
Masuwiek.Blogsome.com

ATAU


Tampilan:
Masuwiek