Tidak seperti biasanya, Ibu selalu mematikan televisi setiap mata kami asyik menikmati kelebaran gambar dan suara yang merampas perhatian. Ruang tengah yang semula hidup mendadak padam. Kami pun saling memandang.
"Perut kalian tidak akan kenyang karena pidato itu," wajah ibu sedikit tegang.
"Iya, tapi ini pidato penting. Pak menteri sedang menjelakan kenapa harga BBM dan sembako naik," aku mencoba menghidupkan televisi, tapi dengan cepat Ibu merampas remote control.
(more…)
Perempuan itu lebih mencintai malam ketimbang siang. Malam memberinya keheningan, tempat ia menyusun rencana pertemuan dengan arwah-arwah bayinya. Demi arwah-arwah bayinya, ia ingin menjadi laba-laba yang setia membangun sarang dengan sulur-sulur lendirnya. Laba-laba itu tak pernah peduli pada angin yang mendadak melabrak dan memorakporandakan sarangnya. Laba-laba itu akan menyusunnya kembali: seinci demi seinci sulur-sulur lendirnya dibentangkan di antara pojok tembok dengan langit-langit rumah, atau diantara ranting-ranting yang menuding ke langit.
Hidup ini, pikir perempuan itu, memang sarat rencana karena manusia telah dijebak impian. Dijebak? Ah, juga tidak, bantah perempuan itu. Lewat impian, perempuan itu merasa leluasa mengulur-ulur harapan. Dan, ia sangat percaya pada harapan, yang membuatnya mampu bertahan hidup dengan semangat cinta. Ketika cinta itu menggetarkan hatinya, yang terbayang adalah bayi-bayi kecil, puluhan jumlahnya, yang saling berebut puting susunya yang penuh dan padat. Air susunya akan menderas, sederas cintanya pada bayi-bayi mungil yg berjejal-jejal dalam benaknya. Bayi-bayi mungil itu memang tidak pernah dilahirkannya, namun ia merasa mengasuh mereka.
(more…)